Pages

August 20, 2014

Keraton Hadiningrat Surakarta


Sejarah Kraton Surakarta Hadiningrat, Kraton Surakarta Hadiningrat atau biasa disebut Kraton Kasunanan Surakarta telah berdiri sejak 1755. Kraton (Istana) ini adalah penerus dari kerajaan Mataram Islam. Konflik internal dan campur tangan Belanda kemudian memaksa kerajaan ini pecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755 melalui perjanjian Giyanti.
Naskah Perjanjian Giyanti ,Perjanjian Giyanti yang ditanda-tangani oleh Pangkubuwana III, Belanda, dan Mangkubumi, melahirkan dua kerajaan baru yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakartan Hadiningrat.
Tratag Sitihingil Lor atau Sasana Sewayana. Sasana Sumewa merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Surakarta. Tempat ini pada zamannya digunakan sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Di kompleks ini terdapat sejumlah meriam diantaranya di beri nama Kyai Pancawura atau Kyai Sapu Jagad. Meriam ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Di sebelah selatan Sasana Sumewa terdapat kompleks Sitihinggil.
Komplek Kemandungan. Kori Brajanala (brojonolo) atau Kori Gapit merupakan pintu gerbang masuk utama dari arah utara ke dalam halaman Kemandungan utara. Gerbang ini sekaligus menjadi gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut baluwarti) yang menghubungkan jalan sapit urang dengan halaman dalam istana.

Bangunan penting Kraton. Perjalanan diawali dari gerbang Kraton paling utara yaitu gapura Gladag. Gapura ini dijaga oleh dua arca Dwarapala bersenjata gada. Menyusuri ruas jalan yang teduh dengan pohon beringin tua di kanan kirinya. Sebuah pendapa terbuka besar berdiri megah tepat di seberang alun-alun, sementara bangunan utama kraton berada di belakangnya. Di dalam bangunan utama ini terdapat sebuah museum yang dulunya merupakan kompleks perkantoran pada jaman Paku Buwono X.

Adat - Istiadat, Sebuah lorong sempit menghubungkan museum dengan kompleks utama kraton. Untuk menghormati adat istiadatnya, kita tidak diperbolehkan mengenakan celana pendek, sandal, kaca mata hitam, dan baju tanpa lengan. Sandal juga dilepas dan kita harus berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pelataran yang konon diambil dari Pantai Selatan. Pohon
Jadwal Kraton : Jadwal Buka Senin - Kamis pk 09.00 - 14.00 WIB Sabtu - Minggu pk 09.00 - 13.00 WIB Harga Tiket Bangsal Pagelaran: Rp 2.500 Museum: Rp 8.000 Ijin kamera/video: Rp 3.500

No comments:

Post a Comment